Rubrik santri

Menjadi Santri Baru

Assalamualaikum Wr Wb.

Santrigaul –  Kali ini saya akan akan berbagi pengalaman saya dulu ketika memulai hidup untuk menjadi seorang santri disalah satu pondok pesantren terkenal yang berada di daerah Jawa Timur lebih tepatnya di daerah Ponorogo, yaitu Pondok Modern Darussalam Gontor.

Sebelum masuk ke dalam cerita, saya mau bertanya. Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata pesantren? Ada yang menjawab pesantren adalah penjara suci, ada juga yang menjawab kalau pesantren dipenuhi dengan disiplin yang sangat ketat, tempatnya kumuh, berada jauh dari kehidupan kota alias di pelosok desa, ke mana-mana harus memakai sarung bahkan ketika olahraga juga sama, dan lain-lain. Pastinya menurut mereka yang belum paham ap-apa tentang pesantren menyebutkan bahwa pesantren adalah tempat yang tidak enak dan aneh.

Berbeda dengan orang-orang yang mengetahui apa definisi dari pesantren, orang-orang yang telah mengetahui tentang pesantren pasti akan lebih memilih pesantren untuk menjadi tempat belajarnya, itu pasti. Yang dikatakan oleh orang-orang tentang pesantren tidak semuanya benar dan tidak semuanya salah.

Oke saya akan sedikit bercerita tentang permulaan kehidupan saya yang bermula dari pendaftaran di Pondok Modern Darussalam Gontor 2.

moko31.wordpress.com ad

moko31.wordpress.com

Ketika saya masih duduk dibangku kelas 6 SD, saya belum mengerti apa-apa tentang pondok pesantren atau bahkan baru pertama kali mendengar. Selepas lulus SD rencana saya meneruskan ke sebuah SMP terkenal di daerah Jakarta Timur, tetapi rencana itu saya urungkan ketika orangtua menemui saya dan menerangkan tentang definisi kehidupan pesantren, setelah panjang lebar menjelaskan tentang pesantren intinya orangtua saya ingin memasukkan saya ke dalam pesantren. Dari sini saya mulai agak tertarik tentang pesantren. Ketika saya sudah menjawab “ya saya mau masuk pondok pesantren” langsung saja orangtua saya membawa pulang saya ke Jogja tanpa memberitahu pondok mana yang nanti akan saya tempati dan langsung mempersiapkan semua kebutuhan saya selama di pesantren, cukup banyak dalam batin saya.

Tanpa basa-basi langsung dalam beberapa hari kami langsung berangkat ke pondok pesantren yang di tujukan, yaitu Gontor 2 tempat penampungan calon santri baru Gontor. Sesampainya di pintu gerbang pondok alangkah kagetnya saya tentang kehidupan pondok pesantren, jauh berbeda dari apa yang banyak dikatakan oleh orang-orang. Banyak kehidupan yang tidak asing di mata kita, yaitu olah raga. Tetapi tidak memakai sarung seperti yang pernah diceritakan dan justru bercelana dan berkaos.

Kemudian saya dikagetkan kembali bahwa saya adalah calon santri yang ke-1983, berarti sudah ada ribuan orang sebelum saya yang mendaftarkan diri ke pesantren, padahal sebelumnya saya kira peminat akan masuk pesantren itu sedikit, ternyata malah sebaliknya. Ketika urusan administrasi sudah selesai mulai dari pendaftaran calon santri, pembayaran bulanan biaya sewa lemari dan buku tabungan saya, kemudian kamar saya sudah ditentukan dan lemari sewaan sudah didapatkan orangtua langsung pamitan pulang ke rumah, tentu saja hal ini membuat saya sedih karena saya belum pernah di tinggal sendirian oleh orangtua dan dengan jarak yang cukup jauh.

 lorong gedung utama pondok modern gontor 2

moko31.wordpress.com

Semenjak di tinggal oleh orangtua kerjaan saya hanya bisa merenung, apa tujuan saya dan orangtua memasukkan saya ke pondok pesantern ini. dua hari setelah di tinggal oleh orangtua saya mulai menelpon ke rumah dan menanyakan kabar di sana dan kabar saya sendiri, kemudian saya mengajukan pertanyaan yang ingin sekali saya ajukan kepada orangtua saya. Dengan jawaban yang mantab orangtua saya berkata “Kami ingin kamu menjadi anak yang soleh dan bermanfaat bagi orangtua dan masyarakat nanti, maka dari itu belajar yang baik agar kamu bisa diterima di Gontor 1 pusat”.

Setelah mengetahui apa tujuan orangtua memasukkan saya ke dalam pondok, saya mulai serius dalam menjalani kehidupan di pondok, walaupun awalnya berat dalam menjalaninya karena belum terbiasa pada akhirnya terbiasa juga berkat jalan kehidupan yang sangat tertata rapi. Tetapi dari itu semua secara tidak sadar membentuk kepribadian mandiri dalam diri saya, saya mulai bisa mengatur segala kegiatan harian dan kebutuhan pokok sendiri. Dan betapa senangnya diriku mendapatkan teman-teman yang banyak dan berasal dari berbagai macam daerah. Berbagai macam kehidupan saya jalankan tanpa ada kata protes, dengan segenap hati saya jalankan dan itulah yang menjadikan saya seorang santri yang baik nantinya.

Dan akhirnya ketika ujian berlangsung doa orangtua dan kerabat keluarga menyertai saya dan alhamdulillah saya lulus masuk ke Gontor 1 pusat. Tanpa menyebutkan nilai panitia menyebutkan satu persatu nomor ujian para calon santri dan alhamdulliah lagi nomor saya disebutkan. Suka dan duka terlihat jelas di sekitar saya. Lulus atau belum semuanya menangis, menangis karena bahagia bisa lulus di Pondok Pesantren Gontor dan sedih karena belum di terima di pondok yang di tuju atau belum lulus.

Dari sini bisa saya ambil kesimpulan bahwa pondok pesantren tidak seburuk yang dipikirkan banyak orang, bahkan inilah jalan dan tempat terbaik untuk membentuk sebuah kehidupan yang mandiri, tempat mencetak para pemimpin hebat di masa yang akan datang.

inci73.wordpress.com ke-gonto-apa-yang-kau-cari

inci73.wordpress.com

Selamat datang di Pondok Modern Darussalam Gontor, dengan motto yang sangat membekas dalam diri saya “Ke Gontor apa yang kau cari?” masih bertanya-tanya dalam diriku apa yang nanti saya dapat selama nyantri di sini? tunggu kisah selanjutnya.

You Might Also Like

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>