Agama

Cara Syiah Memandang Perempuan Dalam Ajarannya

Santrigaul.net – Dalam dunia muslim, ajaran syiah tentang perempuan yang paling umum adalah nikah mut’ah. Nikah mut’ah adalah pernikahan yang dilakukan dalam sebuah akad (perjanjian suci) namun akad itu jangka waktunya dapat ditentukan, bisa satu hari atau bahkan cuma satu jam saja. Sehingga hal ini bisa menjadikan orang untuk berganti-ganti pasangan secara bebas.

Tentu saja secara logika hal ini tidak ada bedanya dengan pelacuran. Tetapi anehnya justru ajaran tersebut sudah disahkan bahkan dianjurkan. Dan hal ini hanyalah sebuah potongan kecil dari cara syiah memandang perempuan. Lebih jauhnya lagi, syiah menganggap perempuan tidak ada bedanya dengan mainan laki-laki yang bisa diperlakukan sesuai keinginan hati.

Mau dijadikan pelacur, budak, atau gudik juga tidak menjadi masalah. Hal ini didapatkan dari jawaban Abu Abdullah ketika ditanyai oleh seseorang yang mengumpulkan istrinya bersama para budaknya. Dia menjawab, “Tidak mengapa seorang laki-laki tidur dengan dua budaknya atau dua istrinya, karena para perempuan tersebut tidak hanyalah memiliki kedudukan seperti mainan saja (bagi laki-laki).” (Al Kulaini-Furu al-Kafi)

Maka tidak ada bedanya dalam ajaran syiah nikah mut’ah itu seperti layaknya pelacuran yang dibolehkan oleh mereka, mengingat bahwa ajaran syiah menganggap perempuan itu seperti mainan bagi para laki-laki.

Apa itu Mut’ah?

tigarai.com

Terdapat sebuah wasiat dari Imam Ali kepada Imama Hasan dalam Nahjul Balaghah surat 31, “Bila kalian memperhatikan perempuan dengan islami, terdapat sebuah perumpamaan hakiki “almar’atu raihaanatun wa laisat biqahramaanatun”…Perempuan adalah bunga bukan pelayan.”

Kutipan tersebut sangatlah menarik dan kutipan tersebut diambil dari salah satu blog syiah Indonesia yaitu syiahindonesia.net mengenai pandangan mereka tentang perempuan. Sekilas kutipan tadi tidak ada masalah sama sekali bahkan terdengar sangat indah.

Tapi yang membuat hati begitu mengganjal setelah membaca kutipan tersebut adalah “apakah syiah itu benar-benar memandang perempuan layaknya bunga?” Dan dari Muhammad bin Muslim dari Abi Ja’far sesungguhnya ia berkata tentang nikah mut’ah : “Bukan nikah mut’ah itu (dilakukan) dari empat (istri yang dibolehkan), karena ia (nikah mut’ah) tidak ada talak, tidak mendapat warisan, akan tetapi ia itu hanyalah sewaan,” (Al Furuu’ min Al Kafii, (2/43), dan kitab “ At Tahdziib” (2/188)).

Keterangan di atas membuat kebingungan bagi siapa saja yang membacanya, karena sangat bertentangan dengan aturan nikah islam sebagaimana sudah disabdakan oleh Rasulullah SAW.

Pertama, setiap perempuan harus didampingi oleh walinya ketika akad nikah. Bagi perempuan yang sudah mendapatkan akad maka berhak menerima nafkah dari suaminya, jika pernikahan itu berakhir maka akhirilah dengan mengucapkan talak.

Rasulullah SAW melarang kepada muslim untuk menikah mut’ah, begitu pula khalifah Ali bin Abi Thalib RA, “Sesungguhnya Nabi SAW telah melarang dari nikah mut’ah dan daging keledai kampung (peliharaan) pada perang Khaibar.” (H.R Al-Bukhari)

Jika kamu mengira bahwa nikah mut’ah hanya untuk perempuan yang sudah dewasa, maka perkiraan tersebut tidaklah benar. Dalam ajaran syi’ah nikah mut’ah bisa juga dengan anak kecil dan itu tidak dilarang. Bahkan Imam Al Khomaini sendiri pernah melakukannya. Sayyid Husein al Musawi yang merupakan salah satu pembantu dari Imam Al Khomaini menceritakan bahwa bagaimana sang imam melakukannya terhadap seorang anak kecil penganut syiah.

Ketika ditanya oleh pembantunya tentang perbuatan tersebut, sang Imam menjawab, “Sayyid Husain, sesungguhnya mut’ah dengan anak kecil itu hukumnya boleh, tetapi hanya dengan cumbuan, ciuman dan himpitan paha. Adapun jima’, maka sesungguhnya dia belum kuat untuk melakukannya.”(Sayyid Husein al-Musawi, Lillahi.. Tsumma Li Tarikh).

Hal ini tidak ada bedanya dengan mengatakan, “Jika pelacur melayani laki-laki dan sudah habis masanya, kemudian dipesan lagi oleh laki-laki lain sampai batas masanya habis juga, kemudian pelanggan pertamanya datang lagi dan memesannya kembali sampai tiga kali, kemudian melayani tiga laki-laki lain apakah boleh menerima kembali pelanggan yang pertama?” Jika ditelusuri kembali, yang membedakan hanyalah penyebutannya saja, yaitu mut’ah dan pelacuran. Tetapi tujuannya sama saja.

Dalam masalah ini ajaran syiah lebih tidak manusiawi daripada pelacuran. Anak kecil saja sudah diperbolehkan untuk nikah mut’ah yang kemudian dilepas begitu saja ketika masanya sudah habis. Anak kecil yang belum mengetahui apa-apa tentang masalah seksual tetapi masa depannya sudah dirusak atas nama ajaran. Rasanya ajaran tersebut tidaklah mengajak kepada kebaikan, tetapi jelas-jelas menjerumuskan kedalam keburukan yang bahaya. Jika ditelusuri lebih dalam lagi, maka ajaran syiah sangatlah bertentangan dengan ajaran islam yang sesungguhnya yang telah diajarkan melalui Al-Qur’an.

mardhotillah-destinasiku.blogspot.com

Dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan bahwa antara laki-laki dan perempuan tidak ada yang lebih unggul. Tidak ada pemahaman tentang pihak (laki-laki) menikmati pihak (perempuan) lainnya, atau bahkan menindasnya. Tetapi justru laki-laki dan perempuan menjadi penolong antara satu sama lainnya dan menjadi pelengkap hidup antara keduanya. Bahkan sudah tertera dengan jelas untuk mengerjakan yang baik (ma’ruf) dan meninggalkan yang buruk (munkar).

Dengan kata lain, ini bukanlah ajaran dari agama islam dan SYIAH BUKANLAH BAGIAN DARI ISLAM.

Sumber:

www.Islampos.com/Cara Syiah Memandang Perempuan

www.Islampos.com/mut’ah; Menikah atau Melayani?  

You Might Also Like

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>